BNPB menjalankan berbagai program strategis untuk membangun ketangguhan masyarakat Indonesia dari tingkat desa hingga kota dalam menghadapi ancaman bencana.
Bersumber dari amanah Perpres Nomor 87 Tahun 2020 tentang Rencana Induk Penanggulangan Bencana 2020-2044, BNPB menjalankan program unggulan berikut untuk mewujudkan Indonesia yang tangguh terhadap bencana.
DESTANA adalah program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan membentuk desa dan kelurahan yang mampu mengenali ancaman bencana di wilayahnya, mengorganisasi dan memobilisasi sumber daya lokal, serta melaksanakan upaya pengurangan risiko bencana secara mandiri dan berkelanjutan.
Program ini melibatkan seluruh komponen masyarakat — mulai dari kepala desa, ketua RT/RW, kelompok perempuan, pemuda, hingga kelompok disabilitas — dalam proses perencanaan dan implementasi pengurangan risiko bencana berbasis komunitas.
Setiap DESTANA yang terbentuk dilengkapi dengan dokumen Rencana Penanggulangan Bencana Desa (RPB Desa), peta risiko bencana, sistem peringatan dini lokal, rencana evakuasi, dan tim sukarela penanggulangan bencana yang terlatih.
KOTARU adalah program pembangunan ketangguhan di tingkat perkotaan yang mengintegrasikan pengurangan risiko bencana dalam tata kelola kota, perencanaan tata ruang, investasi infrastruktur, dan layanan publik. Program ini mengadopsi prinsip "10 Pilar Kota Tangguh Bencana" yang dikembangkan UNDRR dalam Kampanye Making Cities Resilient (MCR2030).
Melalui KOTARU, pemerintah kota didampingi untuk melakukan penilaian mandiri ketangguhan kota (Local Government Self Assessment Tool/LG-SAT), menyusun Rencana Aksi Kota Tangguh Bencana, dan mengintegrasikan pengurangan risiko dalam RPJMD dan RDTR kota.
Hingga 2025, sebanyak 181 kabupaten/kota telah berkomitmen mengikuti program KOTARU, dengan 67 di antaranya telah menyelesaikan LG-SAT dan menyusun rencana aksi yang telah ditetapkan dalam peraturan kepala daerah.
Program membangun budaya keselamatan bencana di lingkungan sekolah melalui pendidikan pengurangan risiko bencana dalam kurikulum, pembentukan tim siaga bencana sekolah, dan pelaksanaan simulasi evakuasi bencana minimal 2 kali per tahun. Ditargetkan menjangkau 300.000 sekolah di seluruh Indonesia pada 2029.
Dalam bencana, fasilitas kesehatan justru menjadi lokasi yang kritis. Program ini memastikan rumah sakit dan fasilitas kesehatan memiliki kapasitas struktural dan fungsional untuk tetap beroperasi saat bencana dan mendukung respons medis darurat dengan kapasitas penuh saat komunitas paling membutuhkan.
Program khusus untuk komunitas pesisir dan pulau-pulau kecil yang menghadapi ancaman spesifik berupa tsunami, rob, abrasi, dan badai. DEPESISIR mengintegrasikan kearifan lokal nelayan dengan ilmu pengetahuan modern dalam pembangunan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan komunitas pesisir.
Menggunakan pendekatan solusi berbasis alam (Nature-based Solutions/NbS), program ini merehabilitasi hutan mangrove, daerah aliran sungai, lahan kritis, dan ekosistem karst sebagai penyangga alami terhadap bahaya banjir, longsor, abrasi, dan kekeringan di Indonesia.
Bersama Kementerian Keuangan, BNPB mengembangkan skema perlindungan keuangan bencana nasional melalui asuransi aset publik, pooling dana bencana daerah, dan pengembangan instrumen pembiayaan risiko bencana yang inovatif untuk memastikan tersedianya dana pemulihan pascabencana.
Bersama Kementerian ATR/BPN, BNPB mengintegrasikan peta risiko bencana dalam proses penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di seluruh tingkatan, memastikan pembangunan tidak menempatkan masyarakat di kawasan rawan bencana.
Terbentuk di 34 provinsi seluruh Indonesia, melampaui target 7.500 desa pada 2024.
Berkomitmen aktif dalam program KOTARU pada 2024, target 250 kota pada 2029.
Telah mengikuti program Sekolah Aman Bencana dan memiliki tim siaga sekolah.
Telah mendapatkan pelatihan dasar kesiapsiagaan dan kebencanaan dari BNPB.
Indonesia menduduki peringkat pertama dunia dalam Indeks Risiko Bencana Dunia (World Risk Index) selama bertahun-tahun. Posisi geografis di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif (Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik), keberadaan 127 gunung api aktif, dan garis pantai sepanjang 99.000 km menjadikan Indonesia salah satu negara dengan paparan risiko bencana tertinggi di dunia.
Data historis menunjukkan bahwa Indonesia mengalami rata-rata 2.000-3.000 kejadian bencana per tahun, dengan korban jiwa, kerugian ekonomi, dan kerusakan infrastruktur yang signifikan. Tanpa upaya proaktif pengurangan risiko, tren ini diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan populasi, urbanisasi yang tidak terkendali, dan dampak perubahan iklim.
"Setiap 1 rupiah yang diinvestasikan dalam pengurangan risiko bencana akan menghemat 7 rupiah biaya pemulihan pascabencana. Investasi dalam kesiapsiagaan adalah pilihan ekonomi yang paling rasional."
Program-program BNPB dirancang berdasarkan kerangka Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015-2030, kesepakatan global 187 negara yang menargetkan pengurangan kerugian nyawa, kerusakan infrastruktur, dan kerugian ekonomi akibat bencana sebesar 50 persen pada tahun 2030 dibandingkan periode 2005-2015.
Dalam setiap program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, BNPB menerapkan prinsip "Build Back Better" (BBB) — membangun kembali dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Artinya, bukan sekadar mengembalikan kondisi ke kondisi sebelum bencana, tetapi secara aktif meningkatkan ketahanan terhadap bencana masa depan melalui konstruksi yang lebih aman, tata ruang yang lebih bijaksana, dan penguatan kapasitas komunitas.
Prinsip BBB telah diterapkan BNPB dalam berbagai program pascabencana besar, termasuk rekonstruksi Aceh-Nias (2005-2009), Yogyakarta (2006-2010), Mentawai (2010-2014), Palu-Sigi-Donggala (2019-2023), dan Cianjur (2022-2024). Hasilnya, wilayah-wilayah ini kini memiliki infrastruktur yang jauh lebih tahan terhadap gempa bumi, tsunami, dan bencana lainnya dibandingkan sebelum bencana melanda.
Ketangguhan bencana adalah tanggung jawab bersama. Daftarkan desa, kelurahan, sekolah, atau instansi Anda dalam program BNPB dan bersama-sama kita bangun Indonesia yang lebih aman.